Sejarah Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo telah dibangun sejak abad ke tujuh masehi saat kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Candi di kompleks ini adalah candi Hindu yang dibangun dengan tujuan sebagai tempat pemujaan.
Candi Gedong Songo merupakan kompleks candi yang berlokasi di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di lereng Gunung Ungaran.
Ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1804, candi ini merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra pada tahun 927 M.
Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya raja adalah yang membangun Candi Gedong Songo pada awal pemerintahannya.
Adanya arca Siwa Mahakala, Siwa Mahaguru, dan Ganesha menjadi bukti bahwa Candi Gedong Songo digunakan sebagai tempat pemujaan dewa.
Mulanya hanya ditemukan tujuh buah bangunan candi di sini, sehingga dinamakan Candi Gedong Pitu yang berarti ‘Candi Tujuh Gedung’
Kemudian pada sekitar tahun 1908 hingga 1911, arkeolog asal Belanda bernama Van Stein Callenfels menemukan dua bangunan candi tambahan.
Sejak saat itu, namanya berubah menjadi Candi Gedong Songo yang bermakna ‘Candi Sembilan Gedung’.
Sejauh ini, Candi Gedong Songo telah dipugar sebanyak dua kali.
Pemugaran pertama dilaksanakan tahun 1930-1931 oleh pemerintah Belanda. Pemugarannya berfokus pada pencarian batu-batu yang hilang dan pemasangan kembali bagian candi yang sempat dibongkar.
Pemugaran kedua dilakukan pada tahun 1978-1983 lewat Proyek Pembinaan, Pemugaran, dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.
Pemugaran dilakukan di Candi Gedong IV (1978), Candi Induk dan Perwara Gedong III (1979), serta Candi Gedong V (1983).
Taman Bunga Celosia, sebuah destinasi wisata yang memikat, sejarah wisata Celosia berakar dari gagasan seorang pelopor muda pertanian pada tahun 2017. Konsep kekinian yang diusung Celosia menjadi daya tarik utama.
Berawal dari mimpi untuk menciptakan ruang yang memadukan keindahan alam dengan sentuhan modern, taman ini hadir di lereng kaki Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang.
Taman ini tidak hanya menampilkan hamparan bunga yang mempesona, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai spot foto Instagramable, wahana permainan seru, serta cafe garden yang menawarkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.
Taman Bunga Celosia terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di Jl. Wisata Gedong Pass, Candigedong.
Lokasi wisata ini berada di dataran tinggi dekat kawasan Gedong Songo, menawarkan suasana sejuk khas pegunungan yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Dengan pemandangan alam yang indah dan udara segar, tempat ini menjadi destinasi favorit untuk keluarga, pasangan, maupun wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sambil bersantai.
Jam operasional Taman Bunga Celosia cukup fleksibel, dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Pengunjung dapat menikmati berbagai atraksi dan fasilitas selama waktu tersebut.
Sejarah Rawa Pening Semarang
Rawa Pening adalah sebuah danau dengan luas sekitar 2.670 hektar yang lokasinya masuk dalam empat kecamatan yaitu Kecamatan Ambarawa, Bawen Tuntang dan Banyubiru.
Rawa Pening terdiri dari dua suku kata yang berasal dari bahasa Jawa yaitu "rawa" yang artinya "danau" dan "pening" dari kata "wening" yang berarti hening, tenang, damai.
Legenda Rawa Pening menceritakan tentang kisah sepasang suami istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta yang tinggal di Desa Ngasem, sebuah lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo.
Ki Hajar dan Nyai Selakanta sudah lama menikah, namun mereka tidak kunjung diberikan keturunan. Akhirnya Ki Hajar meminta izin pada istrinya untuk pergi ke gua untuk bertapa, dan Nyai Selakanta pun menyetujuinya.
Hingga suatu hari, Nyai Selakanta merasakan mual yang sangat hebat. Siang dan malam ia selalu merasa pusing dan mual tak henti-henti. Hingga akhirnya Nyai Selakanta menyadari bahwa ia sedang mengandung. Nyai Selakanta sangat gembira dengan keajaiban tersebut.
Hari demi hari , Nyai Selakanta merasa perutnya semakin besar, dan tibalah saat untuk melahirkan. Namun pada saat melahirkan terkejutlah Nyai Selakanta karena ternyata ia melahirkan seekor bayi naga.
Akhirnya bayi naga tersebut oleh Nyai Selakanta diberi nama Baru Klinthing yang diambil dari nama tombak suaminya, Ki Hajar. Kata 'Baru' berasal dari kata bra yang artinya keturunan Brahmana, yaitu seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara kata 'Klinthing' yang berarti lonceng.
Meski berwujud naga, Baru Klinthing dapat berbicara seperti manusia. Nyai Selakanta merawat Baru Klinthing secara sembunyi-sembunyi agar terhindar dari warga yang akan mengejek anaknya karena mempunyai fisik yang tidak sempurna.
Ketika Baru Klinthing beranjak remaja, ia pun bertanya tentang ayahnya. Nyai Selakanta akhirnya mengutus Baru Klinthing ke Gunung Telomoyo untuk menyusul ayahnya. Nyai Selakanta menitipkan pusaka tombak milik Ki Hajar kepada Baru Klinthing untuk diberikan pada ayahnya.
Sesampainya di Gunung Telomoyo, Baru Klinthing melihat seorang laki-laki sedang duduk bertapa. Kemudian, ia menyampiri sosok laki-laki tersebut yang diduga sebagai ayahnya. Baru Klinthing kemudian menjelaskan siapa dirinya kepada Ki Hajar. Awalnya, Ki Hajar tidak percaya jika dirinya memiliki anak berwujud seekor naga namun ketika Baru Klinthing menunjukkan pusaka tombak kepadanya, Ki Hajar pun mulai sedikit percaya kepada Baru Klinthing.
Ki Hajar kemudian meminta pada Baru Klinthing untuk bertapa di bukit Tugur, guna merubah wujud aslinya dari manusia naga ke manusia seutuhnya. Baru Klinthing pun menuruti perintah ayahnya tersebut.
Ketika Baru Klinthing sedang bertapa, datang rombongan warga desa dari Desa Pathok yang tengah berburu berbagai binatang untuk jamuan pesta. Desa Pathok adalah sebuah desa yang sangat makmur namun penduduk desa itu dikenal sangat angkuh.
Secara tidak sengaja penduduk Desa Pathok melihat Baru Klinthing yanng sedang bertapa. Kemudian Baru Klinthing ditangkap, dan dagingnya dijadikan santapan pesta di Desa Pathok.
Saat pesta berlangsung, tiba-tiba datanglah seorang anak yang lusuh dan penuh dengan luka, yang tak lain adalah jelmaan dari Baru Klinthing. Ia meminta makanan pada warga setempat, tetapi tak satupun warga yang menghiraukannya.
Baru Klinthing pun diusir dari Desa Pathok. Saat perjalanan, tak sengaja ia bertemu seorang janda tua yang baik hati bernama Nyi Latung. Nyi Latung kemudian mengajak Baru Klinthing untuk ke rumahnya dan menikmati beragam santapan yang nikmat.
Baru Klinthing berencana membalas tindakan dari masyarakat Desa Pathok yang angkuh tersebut. Baru Klinthing meminta Nyi Latung untuk menyediakan alat penumbuk padi atau lesung jika ia mendengar suara dentuman yang sangat keras. Nyi Latung pun menuruti perintah Baru Klinthing.
Karena tidak ada satupun warga yang mampu mencabut lidi tersebut, akhirnya Baru Klinthing mencabutnya dan seketika air bah muncul dari dalam tanah hingga menenggelamkan Desa Pathok beserta seisinya. Air bah yang keluar kemudian melebar dan membentuk suatu kubangan menyerupai rawa.
Perintah yang diminta oleh Baru Klinthing kepada Nyi Latung rupanya untuk menyelamatkan janda tua tersebut dari air bah dengan menjadikan lesung menjadi sebuah perahu.
Baru Klinthing kemudian mengubah wujudnya kembali menjadi seekor naga. Ia mendedikasikan dirinya untuk menjaga rawa tersebut. Rawa tersebut sekarang dikenal dengan nama Rawa Pening dengan hamparan air yang luas.
Dokumentasi Pemberangkatan dan Kuliner


0 Comments:
Posting Komentar